Temukan sejarah yang memukau

Cagar Budaya Pasaman Barat

Temukan keajaiban cagar budaya di Pasaman Barat, Sumatera Barat melalui artikel kami! Dalam artikel ini, Anda akan diajak untuk mengungkap pesona dan keunikan cagar budaya yang memikat di daerah ini. Jelajahi situs-situs bersejarah, tradisi adat, dan warisan seni yang melambangkan kekayaan budaya Pasaman Barat. Temukan cerita menarik tentang keindahan arsitektur, ritual budaya, dan kehidupan masyarakat lokal yang masih terjaga. Saksikan keajaiban budaya yang tak ternilai harganya dan merasakan kehangatan dan keindahan Pasaman Barat melalui artikel ini.

Masukan yang bermanfaat sangat kami harapkan. bila masih ada kekurangan kami dengan senang hati pembaca semua bisa memberikan masukan kepada kami

Eksplorasi Cagar Budaya

Temukan kekayaan cagar budaya di Pasaman Barat melalui website ini. Dengan artikel yang informatif dan gambar-gambar menakjubkan, Anda akan diajak untuk menjelajahi berbagai situs bersejarah, tradisi adat, dan warisan seni yang unik di daerah ini.

Warisan Budaya yang Unik

Website ini menyoroti keunikan warisan budaya Pasaman Barat. Anda akan menemukan cerita menarik tentang arsitektur kuno, ritual adat yang masih dilestarikan, dan kehidupan masyarakat lokal yang kaya dengan nilai-nilai budaya. Dengan demikian, Anda dapat memahami dan menghargai keberagaman budaya yang ada di daerah ini.

Melestarikan Cagar Budaya

Website ini juga bertujuan untuk mengajak pembaca dalam upaya melestarikan cagar budaya Pasaman Barat. Melalui informasi yang disajikan, Anda akan lebih memahami pentingnya menjaga warisan budaya ini agar tetap hidup dan berkembang. Dengan demikian, Anda dapat berkontribusi dalam pelestarian kekayaan budaya ini untuk masa depan yang lebih baik.

KOMPONEN DATADATA TEKNIS
Nama Cagar BudayaKompleks Pillbox Jepang Talu
AlamatJl. Pasaman-Lubuk Sikaping
JalanTalamau
Dusun/Kampung/JorongJorong Patamuan
Desa/Kelurahan/NagariNagari Talu
KecamatanTalamau
Kabupaten/KotaPasaman Barat
ProvinsiSumatera Barat
Orbitrasi Situs (km) 
Ibukota Kab./Kota± 25 km
Ibukota Prov.± 170 km
Keletakan GeografisDataran tinggi (bukit ) dengan elevasi 525 mdpl
Aksesibilitas SitusAkses  ke  situs  relatif  mudah,  dapat  ditempuh  dengan kendaraan roda 2 atau lebih, lokasi berada di Jalan Lintas Pasaman-Lubuk Basung dengan jarak sekitar 24 km dari pusat kota Pasaman Barat dan sekitar 3,5 km dari Pasar Talu.
Letak Astronomis0° 12′ 2.331″ N  99° 58′ 54.524″ E
Deskripsi HistorisPada  masa  penjajahan  Belanda  daerah  Talu  merupakan tempat yang strategis dan sebagai pusat kegiatan. Fungsi tersebut kemudian berlanjut pada masa penjajahan Jepang. Sebelum  sampai  ke Talu, sepanjang  jalannya merupakan daerah yang dipenuhi dengan perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok.  Jalan  ini  merupakan  daerah  yang  sangat strategis karena merupakan jalan lintas menuju ke daerah Daerahnya  lubuk  sikaping,  bisa  juga  ke  Medan  dan Pekanbarau. Karena sangat strategis tersebut, maka pada masa jepang  tempat  tersebut harus  dijaga dan  diawasi. Sebagai bukti otentik bahwa Talu dijadikan sebagai pusat pertahanan  adalah  dengan  dibangunannya  bangunan pertahanan  Jepang  dijalan  lintas  Simpang  Empat  –  Talu tepatnya di Desa Talu Saiyo. Bangunan pertahanan Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945. Di sekitar lokasi terdapat 3 benteng yang penamaanya dimulai dari benteng yang berada sisi utara.
Deskripsi ArkeologisBenteng Jepang Talu I Benteng Jepang ini terbuat dari coran beton pasir, semen, dan batu kerikil. Benteng Talu I berbentuk setengah segi depalan atap coran tidak rata agak cembung. Benteng Talu I memiliki ukuran panjang 4,5 m, lebar 4 m dan tinggi 1,9 m. Terdapat 3 lubang pengintai dengan ukuran 25 cm, 25 cm pada sisi selatan, barat dan timur. Arah selatan menghadap ke sungai dan hutan pegunungan, arah barat dan timur menghadap ke hutan. Pintu masuk menghadap ke arah utara menghadap ke arah jalan raya dengan ukuran tinggi 165 cm, lebar 95 cm, tebal 30 cm. Selain itu, terdapat pula kedudukan meriam sebanyak 2 buah, 1 di sisi selatan dan 1 di sisi timur meriam sebanyak 2 buah, 1 di sisi selatan dan 1 di sisi timur dengan tinggi 70 cm dab tebal 20 cm. Benteng Jepang Talu II Benteng Jepang Talu II berada di sisi selatan dari Benteng Jepang Talu I. Dari sisi bentuk yang hampir sama dengan benteng Jepang Talu I. Benteng Jepang Talu I memiliki ukuran panjang keseluruhan 4 m, lebar 4,3 m. Bentuk benteng seperti setengah dari segi-delapan, dengan masing-masing memiliki ukuran yang berbeda yaitu 2 m, 2,23 m. Secara keseluruhan  tinggi  benteng  1,9  m,  dengan  kebetabalan tembok benteng 25 cm s.d 30 cm. Pintu masuk berada disisi baratlaut,  menghadap  kejalan  raya.  Pada  bagian  dalam benteng  terdapat  kedudukan  untuk  meletakkan  meriam berbentuk segi enam sebanyak 1 buah yang menghadap ke sungai. Benteng Jepang Talu III Benteng Jepang Talu III berada di sebelah baratdaya dari benteng Jepang Talu II. Dari segi bentuk hampir sama dengan Benteng  Jepang  I  dan  II  hanya  berbeda  dari  ukuran bangunannya saja. Posisi Benteng Jepang Talu III lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang lain. Pada bagian depan terdapat pintu masuk dengan panjang 3,5 m, tinggi 90 cm, lebar 80 cm, dan tebal 30 cm. Pintu masuk menghadap ke arah timurlaut (arah jalan raya) dengan tinggi 1 m dari muka tanah, lebar 1 m. Benteng Jepang Talu III memiliki panjang 5 m, dengan masing-masing sisi memiliki ukuran yang berbeda mulai dari 2 m, 2,5 m, dan 2, 75 m. Terdapat 2 lubang pengintai  yang  masih  terlihat  pada  sisi  baratlaut  dan baratdaya, yang masing-masing menghadap ke arah hutan dan jalan raya dengan ukuran 30 cm x 30 cm.
Ukuran (Luas) SitusBangunanBenteng Jepang Talu I : 4,5 x 4 m
  Benteng Jepang Talu II : 4 m x 4,3 m
  Benteng Jepang Talu III : 5 m x 4,25 m
 Lahan700 m x 300 m
Batas-Batas SitusUtaraJalan Lubuk Sikaping – Talu
 SelatanSungai
 TimurHutan
 BaratHutan
Fungsi awal dan fungsi sekarangFungsi awal : Bangunan pertahanan 
 Fungsi sekarang : Dead monument 
PemilikPemkab. Pasaman Barat 
PengelolaPemkab. Pasaman Barat 
KOMPONEN DATA DATA TEKNIS
Nama Cagar Budaya Rumah Adat Sinuruik
Alamat   
Jalan   
Dusun/Kampung/Jorong Jorong Benteng
Desa/Kelurahan/Nagari Nagari Sinuruik
Kecamatan Talamau
Kabupaten/Kota Pasaman Barat
Provinsi Sumatera Barat
Orbitrasi Situs (km)   
Ibukota Kab./Kota ± 31 km
Ibukota Prov. ± 176 km
Keletakan Geografis Berada di dataran tinggi 539 m dpl
Aksesibilitas Situs Akses  ke  situs  relatif  mudah,  dapat  ditempuh  dengan kendaraan roda dua atau lebih, lokasi berada di pinggir jalan raya.
Letak Astronomis 00° 14’ 28.0” N  099° 57’ 52.8” E
Deskripsi Historis Masyarakat setempat lebih mengenal Rumah Adat Sinuruik ini dengan nama “Rumah Usang”. Didalam rumah ini terdapat benda-benda  peninggalan  sejarah  berupa  keris,  pedang, meriam, saluak serta perlengkapan adat istiadat lainnya. Namun Tim Survei tidak diizinkan untuk melihat koleksi benda-benda  tersebut  karena  menurut  Suardi  (urang sumando) di rumah adat ini, benda-benda tersebut tidak boleh dikeluarkan tanpa ada persetujuan dari para pemuka adat, ninik mamak, dan penghulu. Benda-benda tersebut bisa diperlihatkan pada saat-saat dan bulan tertentu atau apabila telah ada kesepakatan dari para ninik mamak dan para pemuka adat. Suku-suku yang ada di Sinuruik adalah Suku Jambak, Mandailing, Koto, Melayu, Mais, Sikumbang, dan Caniago.
Deskripsi Arkeologis Sepintas bangunan rumah adat ini secara fisik merupakan bangunan baru dan telah mangalami perbaikan seperti pada bagian  atapnya.  Bangunan  rumah  ini  berbentuk  rumah panggung. Dinding terbuat dari papan/kayu rangau dan banio. Atap terbuat dari seng. Pada bagian kiri rumah adat sudah bangunan baru yang menempel pada bagian induk rumah adat. Pintu masuk terdapat pada kiri kanan depan bagian depan rumah. Pada masing-masing pintu masuk terdapat tangga yang terbuat dari semen. Secara keseluruhan bangunan ini mempunyai panjang 10 meter lebar 12,3 meter dan tinggi dari lantai ke plafon 3,7 meter. Jendelanya berjumlah 10 buah. Ada empat buah jendela yang berada didepan rumah adat ini. Dua buah jendela yang lebih besar berada pada tengah-tengah depan rumah adat. Dan dua buah jendela kecil berada disamping kiri kanan jendela besar tersebut. Empat buah jendela kecil berada di samping kiri kanan rumah adat ini. Dua pintu lagi terdapat di belakang rumah adat. Rumah Adat Sinuruik ini pada bagian atas jendela depannya berhiaskan “Tampuak Manggih” . Pada bagian dalam rumah adat ini, terdapat pola hias mata angin pada bagian atas pintunya. Pada sebelah kiri depan rumah adat terdapat rangkiang.
Ukuran (Luas) Situs Bangunan10 x 12,3 m (123 m²)
  Lahan27 x 36 m (972m²)
Bata-Batas Situs UtaraKebun
  SelatanSungai
  TimurRumah Penduduk
  BaratRumah Penduduk
Fungsi awal dan fungsi sekarang Fungsi awal : Hunian
  Fungsi sekarang : Hunian
Pemilik Kaum/ Milik keluarga Rajo Sinuruik
Pengelola Keluarga Rajo Sinuruik (Nimar Syahrial Tuanku Nan Sati)
KOMPONEN DATADATA TEKNIS
Nama Cagar BudayaSitus Bekas Kerajaan Daulat Parit Batu 
Alamat  
Jalan  
Dusun/Kampung/JorongJorong Banderejo 
Desa/Kelurahan/NagariNagari Lingkung Aur 
KecamatanPasaman. 
Kabupaten/KotaPasaman Barat 
ProvinsiSumatera Barat 
Orbitrasi Situs (km)  
Ibukota Kab./Kota± 7 km 
Ibukota Prov.± 166 km 
Keletakan GeografisObjek berada di dataran rendah dengan elevasi 58 mdpl 
Aksesibilitas SitusAkses menuju lokasi relatif mudah, dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 atau lebih, dari Simpang Empat dapat diakses  melalui  Jl.  Lintas  Siti  Manggopoh,  kemudian dilanjutkan  dengan  berjalan  kaki  menyusuri  perbukanan sawit. 
Letak Astronomis00° 04’ 27.2” N 099° 49’ 40.8” E 
Deskripsi HistorisKerajaan Daulat Parit Batu terletak diantara dua sungai yaitu sungai Patoman dan sungai Tipo. Berdirinya Kerajaan Daulat Parit Batu ini tidak diketahui secara pasti. Namun jika melihat data sejarah dan silsilah kerajaan Parit Batu, yang raja-rajanya semuanya bergelar Tuanku, maka kerajaan Parit Batu ini berdiri pada periodesasi Islam di Sumatera Barat. Indikasinya karena  gelar  Tuanku  di  Minangkabau   merupakan  gelar tertinggi dari seorang yang mendapatkan pendidikan agama di surau. Menurut ahli waris Kerajaan Daulat Parit Batu yang ke VII, yaitu Tuanku Hendri Eka Putra, S.E  Daulat Yang Dipertuan Parit Batu Pucuk Adat Pasaman, Kerajaan Daulat Parit Batu ini merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung di Batusangkar. Kerajaan  Daulat  Parit  Batu  ini  merupakan  perpanjangan tangan dari Kerajaan Pagaruyung didaerah Pasaman yang rajanya dilantik oleh Raja Pagaruyung dan ditunjuk sebagai raja rantau yang menjadi wakil Kerajaan Pagaruyung di daerah Pasaman. Hal ini karena daerah Pasaman merupakan daerah yang sangat strategis, yang terletak di dipesisir pantai yang mempunyai pelabuhan-pelabuhan seperti Sasak dan Air Bangis. Pelabuhan ini sering dikunjungi oleh pedagang dan pendatang yang berasal dari luar, sehingga wilayah ini merupakan wilayah yang ramai pada masa itu. Kedua pelabuhan ini merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Daulat Parit Batu, sehingga daerah ini sangat berpotensi untuk pemasukan dana kerajaan yang berasal dari cukai (pajak) dari kapal atau pedagang yang masuk kedaerah ini. Dengan demikian perkembangan dan kelangsungan Kerajaan Pagaruyung terutama tentang pemasukan dana dan perluasan kekuasaan. 
Deskripsi ArkeologisSitus Bekas Kerajaan Daulat Parit Batu hanya menyisakan tanggul berupa susunan batu kali dengan denah empat persegi panjang berukuran Panjang 132 m dan lebar 88 m. Menurut ahli waris Kerajaan Daulat Parit Batu yang ke VII, yaitu Tuanku Hendri Eka Putra, S.E Daulat Yang Dipertuan Parit Batu Pucuk Adat Pasaman, dahulunya bangunan istana terletak di dalam areal tanggul ini. Benteng Parit Batu dikenal juga dengan nama Kampung Lama Parit Batu. Situs ini terletak 500 m dari jalan raya yang menghubungkan Simpang Empat dengan jalan menuju Air Bangis. Secara geografis Benteng Parit Batu terletak di antara aliran Sungai Batang Tomani di sebelah utara dan Sungai Batang Tipo di sebelah selatan. Sebelah timur merupakan jajaran Pegunungan Bukit Barisan, sedangkan sebelah barat merupakan akses masuk karena merupakan bagian paling mudah dijangkau dengan kondisi permukaan tanah relatif datar. Bangunan benteng berdenah persegi penjang, menempati lahan seluas 132 m x 88 m. benteng berupa susunan batu andesit yang dibangun mengelilingi areal tersebut dengan ketinggian berkisar antara 150 cm – 200 cm dengan lebar bagian atas berkisar 1 m – 2 m.Ukuran panjang batu yang digunakan sebagai bahan penyusun benteng bervariasi antara 8 – 40 cm. di bagian dalam benteng tidak ditemukan struktur bangunan tetapi cukup banyak ditemukan fragmen keramik. Berjarak 100 m sebelah barat benteng terdapat kompleks pemakaman yang menurut informasi merupakan pemakaman tokoh yang berkaitan dengan pembangunan benteng dan pemukiman. Tiga di antara makam tersebut merupakan makam pejabat/raja penguasa di benteng tersebut, yaitu Daulat Sakit Kaki (raja pertama), dan Raja Muhammad Ali Nafiah.

Kondisi situs saat ini sangat memprihatinkan, situs terancam hancur akibat aktivitas pertanian penduduk. Tanaman-tanaman penduduk berupa sawit, kelapa, dan jagung banyak tumbuh disekitar areal situs malahan ada yang tumbuh diatas situs. Lama kelamaan tumbuhan tersebut akan dapat merusak bangunan situs itu sendiri.

 
Ukuran (Luas) SitusBangunan132 m x 88 m
 Lahan132 m x 88 m
Batas-Batas SitusUtaraPerkebunan sawit
 SelatanPerkebunan sawit
 TimurPerkebunan sawit
 BaratPerkebunan sawit
Fungsi awal dan fungsi sekarangFungsi awal : Benteng pertahanan
 Fungsi sekarang : Pariwisata, pedidikan, penelitian
PemilikKeluarga/Ahli Waris Daulat Parit Batu
PengelolaBPCB Sumatera Barat
KOMPONEN DATA DATA TEKNIS
Nomor Inventaris Cagar Budaya 05/BCB-TB/A/09/2011
Nama Cagar Budaya Kawasan Perumahan Tradisional Tinggam Kajai
Alamat  
Jalan Jl. Kampung Tinggam
Dusun/Kampung/Jorong Jorong Lubuak Sariak
Desa/Kelurahan/Nagari Nagari Kajai
Kecamatan Talamau
Kabupaten/Kota Pasaman Barat
Provinsi Sumatera Barat
Orbitrasi Situs (km)  
Ibukota Kab./Kota ± 17 km
Ibukota Prov. ± 171 Km
Keletakan Geografis Berada di dataran rendah dengan elevasi 258 mdpl
Aksesibilitas Situs Akses menuju lokasi relatif mudah, terletak ±4 km dari jalan raya Simpang Ampek-Talu. Dari pasar Kajai Lubuak Sariak dapat dicapai dengan kendaraan melalui jalan tanah dan melewati sebuah jembatan gantung, sehari-hari masyarakat desa mengunakan sepeda motor untuk keluar masuk desa.
Letak Astronomis 0° 11′ 21.239″ N  99° 54′ 42.448″ E
Deskripsi Historis Jorong Lubuak Sariak yang secara adat dikenal dengan Nagari Tinggam  memiliki  areal  yang  cukup  luas,  sesuai  dengan tataran adat terdiri dari 3 kampung tradisional yakni Tinggam Mudiak yang dipimpin oleh Dt. Sati, Tinggam Hilia yang dipimpin Dt Managun serta Kasiak Putiah yang dipimpin oleh Dt Sutan Gambalo. Kampung Tradisional Kajai merupakan perkampungan  tradisional  yang  berdasarkan  tuturan  dari pemuda adat setempat telah ada sejak abad ke 16. Perkampungan Tinggam ini pada awalnya didirikan oleh Siak Bonda (Tongku/Tuanku Imam) yang mendapat tugas dari Yang Dipertuan Daulat Parit Batu yang berkedudukan di Simpang Empat1. Secara wilayah adat Perkampungan Tradisional yang ada di Jorong Lubuak Sariak berjumlah 2 kelompok, dua diantaranya masih  dalam  satu  kawasan  yang  dinamakan Perkampungan Tinggam, dan 1 kelompok berjarak kurang lebih 1 km dari perkampungan Tinggam yang dinamakan Kampungan Kasiak Putiah. Dalam tatatan adat, masing-masing perkampungan dipimpin oleh datuk. Datuk Sati (Suku Jambak) di Tinggam Mudiek, Datuk Managun (suku Caniago) di Tinggam Hilie, dan Datuk Sutan Gumbalo (suku Caniago) di Kasiak Putiah. Kedua perkampungan ini memiliki keunikan dengan perkampungan yang tertata serta arsitektur Minangkabau yang berbeda dengan arsitektur Minangkabau pada umumnya.
   
Deskripsi Arkeologis Kawasan Perumahan Tradisional Tinggam merupakan perkampungan lama yang dihuni oleh sekitar 100 kepala keluarga. Perkampungan Tinggam merupakan salah satu bentuk perkampungan tradisional yang secara historiografi tradisional Minangkabau (tambo) merupakan wilayah rantau. Secara umum, bangunan yang ada di Tinggam berbahan kayu. Di perkampungan Tinggam setidaknya terdapat 52 bangunan kayu dengan perincian 49 bangunan rumah dan 3 bangunan rangkiang (sopo). Selain bangunan kayu, pada sisi timur pada perkampungan terdapat bangunan masjid yang telah menggunakan bahan semen, bata.
  Rumah di Kawasan Kajai memiliki keunikan dan keunggulan, dimana masyarakatnya telah memahami penataan dan penggunaan ruang yang telah terlihat dari perkampungan yang tertata dengan sangat baik serta memiliki pola tata ruang yang teratur. Pola susunan bangunan termasuk dalam kategori pola linier, yang mana bangunan berada di sisi barat dan timur yang dipisah oleh jalan.
  Wilayah perkampungan tradisional Tinggam secara geografi berada di lembah perbukitan yang berada di sisi barat, utara dan selatan, sedangkan pada sisi selatan terdapat sungai yang oleh masyarakat setempat dinamakan Sungai Batang Tinggam. Bangunan rumah tinggal yang ada di Perkampungan Tinggal memiliki beberapa variasi baik bentuk atap, bentuk pintu, bentuk jendela, tangga. Namun, secara umum, bangunan rumah tinggal berbentuk rumah panggung dan/atau rumah kolong yang terlihat pada bagian yang kosong/kolong pada bawah bangunan. Bagian kolong rumah ada yang masih memakai batu sandi dan adapula yang sudah diganti dengan semen. Ada pula bangunan rumah tinggal yang berbentuk rumah bagonjong dengan jumlah gonjong genap (2 gonjong) yang dilengkapi dengan gonjong tambahan pada bagian pintu dan tangga. Rumah bagonjong yang masih tersisa terlihat memakai sistem tradisional (sistem pasak).
  Bangunan rumah tinggal ada yang berdenah empat persegi dan adapula yang berdenah empat persegi panjang. Dari segi ukuran bangunan cukup variatif, ada yang memiliki ukuran panjang 5 m, 6 m, 8 m, dan juga lebar bangunan ada yang lebar 4 m, 5 m, 6 m. Selain bangunan rumah tinggal terdapat masih terdapat 3 rangkiang (sopo) yang khusus berada di depan bangunan rumah tinggal yang berbentuk rumah bagonjong. Saat sekarang ini bangunan perkampungan tradisional Lubuak Sariak, Kenagarian Kajai masih mempertahankan arsitektur aslinya.  Perkampungan  Tradisional  Lubuak  Sariak  yang terletak   di   Kenagarian   Kajai   merupakan   sebuah perkampungan yang terletak di dataran rendah, dikelilingi perbukitan dan pegunungan, dilalui oleh beberapa aliran sungai. Masyarakat Perkampungan Tradisional Lubuak Sariak telah  berkembang  dan  menyebar  kemana-mana,  tetapi kondisi tanah leluhur masih dipertahankan sampai sekarang. Sebagai sumber perekonomian masyarakat Lubuak Sariak sebagian  besar  menjadi  petani,  dengan  kekayaan  dan peninggalan arsitektur yang khas dan masih asli ini, maka perkampungan tradisional Lubuak Sariak memiliki potensi dan daya tarik yang besar sebagai objek wisata2.
   
Ukuran (Luas) SitusBangunan6 m x 4 m ; 8 m x 6 m
 Lahan100 m x 700 m
Batas-Batas SitusUtaraperkebunan
 Selatanperkebunan
 Timurperkebunan
 Baratperkebunan
Fungsi awal dan fungsi sekarangFungsi awal : Hunian 
 Fungsi sekarang : Hunian 
PemilikMasyarakat Adat Tinggam 
PengelolaMasyarakat Adat Tinggam 
KOMPONEN DATA DATA TEKNIS
Nomor Inventaris Cagar Budaya 06/BCB-TB/A/09/2012    
Nama Cagar Budaya Mess Pemda Kab.Pasaman Barat (Eks.Controleur Air Bingis)    
Alamat      
Jalan Jl. Imam Bonjol No. 1    
Dusun/Kampung/Jorong Jorong Pasar Muara    
Desa/Kelurahan/Nagari Nagari Air Bangis    
Kecamatan Sungai Beremas    
Kabupaten/Kota Pasaman Barat    
Provinsi Sumatera Barat    
Orbitrasi Situs (km)      
Ibukota Kab./Kota ± 74,5 km    
Ibukota Prov. ± 243 km    
Keletakan Geografis Mess Pemda berada di bentang alam dataran rendah, lokasi tidak jauh dari pantai Air Bangis dengan elevasi 10 mdpl  
Aksesibilitas Situs Aksesibilitas  menuju  Mess  Pemda  sangat  mudah,  dapat diakses dengan kendaraan roda 2 atau lebih karena objek berada di depan Kantor Pos Air Bangis dan bersebelahan dengan SD 04 Sungai Beremas.  
Letak Astronomis 0° 12′ 0.498″ N  99° 22′ 41.397″ E    
Deskripsi Historis Wisma Bayu Samudera merupakan salah satu peninggalan kolonial yang masih bisa dilihat di Air Bangis. Akan tetapi, pada  tahun  2014  bangunan  ini  direnovasi  oleh  Dinas Pekerjaan  Umum  Kabupaten  Pasaman  Barat.  Meski mempertahankan fasade asli, namun beberapa bangunan terutama pada bagian belakang sudah dihancurkan.  
Deskripsi Arkeologis
 
   
 
Mess   Pemda   pada   awalnya   merupakan   bangunan administrasi  (Controleur)  pada  pemerintahan  Kolonial Belanda di Air Bangis. Mess Pemda sekarang merupakan kantor dari C. Schultz saat menjadi controleur di Air Bangis. Pendirian gedung controleur di Air Bangis bertujuan untuk memperlancar urusan administrasi di Air Bangis yang pada masa  Belanda  dijadikan  sebagai  salah  satu  wilaya  yang strategis dalam perdagangan. Bangunan berdenah persegi panjang dengan ukuran saat sekarang 18 m x 12 m dengan menggunakan bata, semen. Bangunan ini beratap limasan dengan bagian depan dan belakang terdapat penambahan atap pelindung teras depan dan belakang. Di sebelah baratdaya terdapat bangunan yang lebih  kecil  memanjang.  Bangunan  ini  awalnya  memiliki beranda  dengan  ditopang  oleh  tiang  kayu,  namun  saat sekarang sudah diganti dengan tiang beton. Bangunan bertipe bangunan  Indies  dengan  mengambil  beberapa  unsur tradisional/lokal seperti bentuk pintu, jendela, ventilasi. Pintu masuk berukuran tinggi 3,5 m dengan lebar 1,9 m. Jendela pada bangunan ini berjumlah 4 buah, 2 pada bagian depan dan 2 pada bagian samping dengan ukuran tinggi 2,5 m dan lebar 1,55 m. Selain itu, ruang tengah merupakan ruang terbuka dengan dua kamar, masing- masing sisi kiri dan kanan. Baik pintu dan jendela berukuran cukup lebar dan tinggi sehingga sirkulasi udara leluasa masuk. Bangunan yang terletak di sebelah barat dihubungkan dengan koridor menuju ruang  induk.  Setidaknya  terdapat  empat  buah  kamar berukuran kecil.  
Ukuran (Luas) SitusBangunan18 m x 12 m
 Lahan80 m x 28 m
Batas-Batas SitusUtaraLapangan Air Bangis
 SelatanSDN 04 Sungai Beremas
 TimurJalan Imam Bonjol
 BaratLaut
Fungsi awal dan fungsi sekarangFungsi awal : Gedung administrasi
 Fungsi sekarang : Hunian
PemilikPemda Pasaman Barat
PengelolaPemda Pasaman Barat